Tuesday, December 08, 2009

Menengok ke belakang

Two roads diverged in a wood, and I..
I took the one less traveled by..
And that has made all the difference
-Robert Frost-


Beberapa hari belakangan ini saya sedang merasa sedih dan kecewa, karena sekali lagi.. saya harus melewatkan ajang pameran “MM” di Jakarta bulan Desember ini, lengkap dengan fasilitas booth gratis dari disperindag Jatim. Kecewa rasanya.. saat kita tidak bisa mendapatkan apa-apa yang kita inginkan.. Apalagi ini adalah event yang ditunggu-tunggu oleh hampir semua perancang dan seniman perhiasan tanah air. Saya merasa seperti macan kandang multiply, yang tidak dikenal oleh siapa pun di luar multiply. Yang karirnya “mandeg” hanya di multiply dan facebook. Sama seperti jewelry artisan lain, ada keinginan untuk lebih dikenal di luaran sana. Tidak cukup rasanya buat saya, untuk hanya dikenal di kalangan wire worker Indonesia, dan para penghuni situs jejaring pertemanan multiply dan facebook. Tidak cukup juga rasanya buat saya, memiliki blog yang telah dikunjungi lebih dari 90.000 pengunjung dan memiliki beberapa klien manca negara. Saya merasa minim pengalaman yang berhubungan dengan pameran.. Dan ingin memiliki jejaring bisnis lebih luas, lebih tenar dan diakui setidaknya pada kalangan yang lebih luas lagi. Rekan bisnis saya mengatakan bahwa saya kurang niat.. karena sebenernya hanya perlu niat yang kuat untuk bisa pergi ke Jakarta dan meninggalkan anak-anak di rumah.. Toh, anak-anak itu ada yang jagain di rumah.. toh, mereka sudah cukup besar untuk bisa belajar sendiri.. Jadi sebaiknya saya harus segera mempersiapkan diri untuk bisa ikut pameran. Tapi saya tetap tidak bisa mengiyakan untuk ikut pameran… entah kenapa.. awalnya saya tidak tahu kenapa kok rasanya berat untuk bisa ikut pameran ini…pingin, tapi kok ada ganjelan…

Kekecewaan saya, membuat saya harus menengok lagi jauh kebelakang.. saat saya memutuskan untuk berhenti bekerja, justru saat saya sedang berada di puncak karir saya. Saat itu, saya sedang dalam posisi “top management” di satu perusahaan PMA di Jakarta.. Saya bertanggung jawab untuk operational bisnis perusahaan secara nasional.. Bukan posisi mudah didapat untuk seorang karyawan.. apalagi wanita.. Tapi saya memutuskan untuk berhenti. Saat itu, “keluargalah” yang menjadi alasan saya memutuskan berhenti bekerja dan memilih menjadi “ibu rumah tangga saja”. Anak-anak lelaki yang sudah mulai beranjak remaja, dan suami yang harus pindah tugas nun jauh di Banjarmasin. Jika kata ajaib “keluarga” ini telah membuat saya mengambil keputusan berhenti bekerja dua tahun yang lalu.. maka kata ajaib ini juga lah yang mebuat saya urung ikut pameran di Jakarta…Bukan hal mudah.. karena awalnya saya “lupa”… Apa yang sebenarnya alasan penting saya berhenti bekerja dulu.. dan memilih jalan “less traveled one” ini…

Wire work, memang cinta baru saya.. “teman” yang membuat hari-hari saya sebagai ibu rumah tangga jadi lebih berarti.. Saya menemukan “pengakuan” baru untuk diri saya, sebagai “seniman kawat”… saya tumbuh sebagai pribadi karena wirework, dari yang awalnya bukan siapa-siapa disana., yang gak ngerti blass tentang fotografi, yang gak bisa gambar sket.. menjadi seorang yang bisa melakukan semua itu sendiri. Dari seorang yang gak dikenal, jadi seorang yang dimintai saran dan bisa mengajar wirework mulai dari kelas basic sampai advance. Dan pada akhirnya, hobby saya ini, bisa membiayai dirinya sendiri dan bahkan memberikan uang saku tambahan buat saya.…

Seiring dengan berjalannya waktu, sama seperti cinta-cinta yang lain.. kecintaan saya pada wirework ini pun akhirnya menuntut lebih banyak perhatian dan waktu dari saya.. Belakangan, dia juga menuntut komitmen lebih dalam lagi, dan bukannya sekedar hobby penambah uang saku. Tuntutannya berbanding lurus dengan ego saya sebagai pribadi, yang ingin lebih dikenal. Dan ingin lebih hebat lagi.. Saya mabok ketenaran dalam skala tertentu. Akibatnya, saya jadi lupa.. bahwa alasan saya untuk berhenti bekerja dulu adalah keluarga saya.. anak-anak yg membutuhkan saya untuk menemani mereka… Dan jika dalam perjalanan saya sebagai ibu rumah tangga, Allah memberikan wirework ini, maka “seharusnya” itu hanyalah sebagai pengisi waktu luang dan bonus untuk saya...

Ambisi pribadi membutakan saya, sehingga saya harus menengok ke belakang, mengingat lagi daftar prioritas saya… dan alasan mengapa saya memilih jalan sepi dibandingkan jalan gemerlap dalam hidup saya dulu…Jika pada akhirnya saya mampu memutuskan untuk tidak mengikuti pameran “MM”, itu karena saya memilih untuk menemani mereka berjibaku menghadapi ujian dibandingkan kesempatan memperoleh jejaring yang bisa membuat saya semakin ngetop sebagai wire jewelry artisan.. Sama seperti bait puisi Robert Frost yang saya kutip di awal tulisan saya, tampaknya saya telah memang telah memilih jalan “less traveled one… dan saya berharap.. that has made all the difference… Well, Life is always series of choice… Bagaimanapun hidup adalah pilihan yang kita buat berdasarkan prioritas, dan andalah yang menentukan prioritasnya… dan prioritas saya adalah, untuk selalu ada buat anak-anak saya di masa sulit mereka, sambil tetap bisa berwirework tanpa mengorbankan mereka lagi..


Banjarmasin, 5 Desember 2009

No comments: