
Domestic Goddess.. adalah istilah yang diasosiasikan dengan “dewi” dalam urusan rumah tangga… Dewi itu bisa saja seorang ibu atau bahkan PRT..
Sudah seminggu ini, saya menjadi “totally a domestic goddess”, karena pembantu dan driver yang saya bawa dari Jawa, mesti pulkam karena ortunya meninggal. Dan cari pembantu baru, bukan hal yang mudah di Banjarmasin... Tapi, ini bukan yang pertama kali buat saya… Saat pertama kali pindah ke Banjarmasin, saya juga sempat menjadi totally a domestic goddess… Dan kalau saya membayangkan kembali saat-saat itu… WOW!! It’s not easy… anak-anak yang belum menyesuaikan diri, rumah dinas super besar, dengan rumput yang cepet tinggi, bahkan saking cepatnya.. rasanya baru beberapa hari yang lalu saya dengar mesin rumput menderu, hari ini mesti menderu lagi..
Tapi, kali ini beda!! Being a domestic Goddess… It's not anymore a bad and scarry thing for me… Jadwal saya padat… nyiapin sarapan, bersih2 rumah sambil ngurusin laundry.. masak.. dan tentu saja antar jemput anak-anak…Pokoknya, semua tugas rumah tangga.. kecuali… hehehe… ada satu yang saya bener-bener gak bisa… menyetrika baju!! Saya bener-bener gak betah berdiri (atau duduk) lama-lama sambil setrika.. jadi untuk urusan ini, saya setrika yang “penting-penting” aja… dan yang “urgently required” saja… :-D..hmm, saya sedang mempertimbangkan tukang setrika harian yang datang ke rumah beberapa jam setiap hari untuk setrika dan membersihkan bagian luar rumah yang jarang tersentuh… I’ll think about it…
Seminggu sudah berlalu… dan saya mulai merasa “ringan” mengerjakan semua… pagi-pagi bangun.. sholat subuh.. dan langsung beraktifitas… terussss.. sampe waktu tidur anak-anak tiba… Tapi ada satu hal yang membanggakan hati saya, membuka mata saya… anak-anak saya (2 boys)… mereka lebih mandiri… mereka menyiapkan seragam sendiri.. membersihkan meja makan dan mencuci piring sendiri.. menyiram tanaman.. membuka dan menutup pintu garasi dan pagar... dan termasuk juga mereka sekarang lebih bersabar menghadapi saya yang jadi lebih cerewet karena capek.. (hehehe.. alesan!!).. Hmm, masih ada lagi, suami saya.. selama saya menjadi “Domestic Goddess” dia tidak pernah mengijinkan saya membuka/menutupkan pagar garasi buat dia (pdhal biasanya dia tinggal klakson dan malas keluar mobil)… Dia juga sebisa mungkin berusaha menemani saya untuk makan siang di rumah, karena merasa kasihan melihat saya makan siang sendiri di rumah (untung banget tinggal di Banjarmasin…kemana-mana deket… hehehe).. Duuh, rasanya terbayar semua peluh bekerja dirumah seharian… Dan gak rugi rasanya menjadi “Real Domestic Goddess”
Orang bilang hidup memang tidak sempurna… tapi buat saya, hidup itu sempurna bahkan dalam susah dan sakitnya… Dan menjadi “Domestic Goddes”, adalah satu cara buat saya untuk melihat kesempurnaan hidup… Menjadi “Domestic Goddess” membuat mata saya merebak tangis, bukan karena capek… tapi karena melihat cinta dalam kesabaran anak-anak dan suami saya… Dan akhirnya, saya bisa melihat cinta yang Allah taburkan dalam setiap tarikan nafas saya untuk saya punguti.. dan merasakan, betapa Allah menyayangi saya, bahkan dalam sakit dan susahnya…
Tapi, kali ini beda!! Being a domestic Goddess… It's not anymore a bad and scarry thing for me… Jadwal saya padat… nyiapin sarapan, bersih2 rumah sambil ngurusin laundry.. masak.. dan tentu saja antar jemput anak-anak…Pokoknya, semua tugas rumah tangga.. kecuali… hehehe… ada satu yang saya bener-bener gak bisa… menyetrika baju!! Saya bener-bener gak betah berdiri (atau duduk) lama-lama sambil setrika.. jadi untuk urusan ini, saya setrika yang “penting-penting” aja… dan yang “urgently required” saja… :-D..hmm, saya sedang mempertimbangkan tukang setrika harian yang datang ke rumah beberapa jam setiap hari untuk setrika dan membersihkan bagian luar rumah yang jarang tersentuh… I’ll think about it…
Seminggu sudah berlalu… dan saya mulai merasa “ringan” mengerjakan semua… pagi-pagi bangun.. sholat subuh.. dan langsung beraktifitas… terussss.. sampe waktu tidur anak-anak tiba… Tapi ada satu hal yang membanggakan hati saya, membuka mata saya… anak-anak saya (2 boys)… mereka lebih mandiri… mereka menyiapkan seragam sendiri.. membersihkan meja makan dan mencuci piring sendiri.. menyiram tanaman.. membuka dan menutup pintu garasi dan pagar... dan termasuk juga mereka sekarang lebih bersabar menghadapi saya yang jadi lebih cerewet karena capek.. (hehehe.. alesan!!).. Hmm, masih ada lagi, suami saya.. selama saya menjadi “Domestic Goddess” dia tidak pernah mengijinkan saya membuka/menutupkan pagar garasi buat dia (pdhal biasanya dia tinggal klakson dan malas keluar mobil)… Dia juga sebisa mungkin berusaha menemani saya untuk makan siang di rumah, karena merasa kasihan melihat saya makan siang sendiri di rumah (untung banget tinggal di Banjarmasin…kemana-mana deket… hehehe).. Duuh, rasanya terbayar semua peluh bekerja dirumah seharian… Dan gak rugi rasanya menjadi “Real Domestic Goddess”
Orang bilang hidup memang tidak sempurna… tapi buat saya, hidup itu sempurna bahkan dalam susah dan sakitnya… Dan menjadi “Domestic Goddes”, adalah satu cara buat saya untuk melihat kesempurnaan hidup… Menjadi “Domestic Goddess” membuat mata saya merebak tangis, bukan karena capek… tapi karena melihat cinta dalam kesabaran anak-anak dan suami saya… Dan akhirnya, saya bisa melihat cinta yang Allah taburkan dalam setiap tarikan nafas saya untuk saya punguti.. dan merasakan, betapa Allah menyayangi saya, bahkan dalam sakit dan susahnya…

